Sunday, May 25, 2008

Kompromi Agama dan Filsafat dalam Perspektif Ibnu Rusyd

http://www.alshindagah.com/marapr2006/rushd.j
Agama adalah sistem nilai berupa perintah dan larangan untuk manusia yang mendasarkan doktrinnya pada ajaran kitab suci yang dibawa oleh para nabi. Agama merupakan produk ”langit” dan firman Tuhan. Kitab suci sering dianggap sebagai sumber kebenaran utama, bahkan satu-satunya. Sementara filsafat, adalah sebaliknya. Ia adalah produk spekulatif pikiran manusia di bumi. Namun, filsafat juga dianggap sebagai sumber kebenaran, sama seperti kitab suci.

Para pemikir perenialis seperti Fritjchop Schuon dan Seyd Husain Nasr beranggapan bahwa agama dan filsafat berasal dari satu sumber, Tuhan yang Esa. Pandangan pemikir Perenialis melihat kesatuan dan kesinambungan antara ajaran kitab suci dan pemikiran filosofis. Keduanya adalah merupakan sumber kebenaran. Dalam pikiran kaum Perenialis, Hermes yang menjadi sang pembawa pesan Zeus, dewa terbesar dalam mitologi Yunani, adalah Idris dalam tradisi Islam. Tak ada pemisahan antara ajaran agama (wahyu) dan pemikiran filosofis (akal) manusia di bumi. Keduanya adalah sumber mata air yang menghilangkan dahaga keingintahuan manusia.

Jika mengamati bagaimana perkembangan tradisi pemikiran filsafat di kalangan muslim, bisalah digambarkan bahwa baru pada beberapa dekade terakhir inilah beriringan dengan maraknya isu HAM, demokrasi, dan kemudahan akses informasi, kesempatan untuk mempelajari apa saja terbuka lebar. Sebelumnya, terlalu banyak larangan dan perdebatan antara mana boleh dan mana yang dilarang dipelajari. Namun, hingga saat ini, masih ada sebagian kalangan dalam Sunni Islam yang mengkhawatirkan kesesatan pemikiran filsafat. Pikiran akan kesesatan pemikiran filsafat ini ini bisa dirunut dalam sejarah panjang persinggungan doktrin agama sebagai wahyu ilahiah dan rasio kritis spekulatif filsafat.

Untuk menyelami seperti apa persinggungan dan apakah keduanya bisa berkompromi? perlulah ditelusuri argumen yang mendasarinya. Demi relevansi dengan realitas di Indonesia dan simplifikasi, dua nama yang sering disebut mengenai masalah ini adalah Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Keduanya memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran keagamaan dan filsafat di kemudian hari. Al Ghazali, dengan banyak karya, memiliki posisi khusus di kalangan muslim Sunni. Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) adalah karya besarnya yang merupakan rintisan bagi tasawuf syariah. Karya ini memberikan tuntutan bagi muslim untuk mempraktekkan doktrin-doktrin agama. Dan khusus mengenai filsafat, karyanya tahafut al falasifah (kesesatan para filsuf) yang berisi kritik terhadap beberapa pandangan para filsuf mendapatkan banyak tafsiran yang pada akhirnya ”mematikan” tradisi filsafat di kalangan muslim.

Sebaliknya, Ibnu Rusyd, khusus mengenai filsafat, memberikan kritik balik terhadap al Ghazali dalam karyanya, tahafut-tahafut. Jika al Ghazali mendapati gelar hujjatul Islam di dunia muslim, maka pengaruh Ibnu Rusyd adalah sebaliknya. Karya Ibnu Rusyd mendapatkan perlakuan berupa pembakaran. Akhirnya, pemikirannya malah berkembang di dunia Latin dan Yahudi. Karya Ibnu Rusyd lainnya yang berkenaan langsung dengan masalah adanya kesesuaian wahyu dan akal (agama dan filsafat) adalah fasl al maqal. Tulisan ini diarahkan untuk menyelami lebih dalam seperti apa pemikiran Ibnu Rusyd perihal kompromi agama dan filsafat dan apa saja yang diurai ibnu rusyd dalam fasl al maqal.

Perkenalan Ibnu Rusyd dengan Aristoteles
Ibnu Rusyd, dikenal di dunia latin sebagai Averroes (1126-1198 M), berasal dari komunitas Islam yang berkembang di spanyol setelah penyerbuan orang muslim (pada awal abad ke delapan). seperti Ibnu Sina, ia termasyhur di berbagai bidang pengetahuan, termasuk bidang kedokteran dan hukum. Walaupun sebagian hidupnya ia makmur, ia mati dalam pengasingan, setelah dituduh tidak ortodoks.

Kakeknya yang memiliki nama sama dengan Ibnu Rusyd, Abu al Walid Muhamad adalah Qadhi kota Kordoba. Perannya cukup signifikan dalam perlawanan kota Kordoba terhadap dinasti al Murabithun meskipun gagal. Karya teoritisnya memperlihatkan bahwa ia adalah seorang ahli Ushul Fiqh dan dalam studi atas berbagai pendapat yang ditawarkan oleh beberapa mazhab besar fiqh (ikhtilaf). Ini menghubungkannya dengan gagasan pembaruan fiqh Maliki yang menganjurkan penginterasian penalaran analogis (qiyas). Ayahnya bernama Abu al Qasim Ahmad menduduki posisi sama dari tahun 1137 M hingga Spanyol (Andalusia) diduduki oleh dinasti al Muwahiddun 1145-6 M.

Ibnu Rusyd lahir pada 1126, tahun yang sama dengan meninggalnya kakeknya. Ia belajar agama, dan hadis dari ayahnya. Kesenangannya mempelajari ilmu hukum kemudian menjadikannya lebih dikenal sebagai faqih ketimbang sarjana dan filsuf. Studi lain yang dipelajarinya adalah fiqh, bahasa dan sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli (’alim). Ia ikut merevisi kitab referensi mazhab Maliki al Muwatha bersama ayahnya dan menghafalnya. Ibnu Rusyd juga belajar matematika, fisika, astronomi, logika filsafat dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Kordoba terkenal sebagai pusat studi filsafat. Kordoba saat itu menjadi saingan Damaskus, Baghdad, Kairo dan kota besar di Timur lainnya.

Ibnu Rusyd hidup dalam masa politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan al Murabithun di Kordoba ditaklukkan oleh golongan al Muwahidun tahun 1147 M. Gerakan al Muwahidun ini digagas oleh Ibnu Tumart yang menyebut dirinya al Mahdi. Ia terpengaruh dinasti Fathimiyah di Mesir dalam filsafat. Ibnu Rusyd kemudian bekerja pada tiga pewarisnya, Abdul Mukmin, Abu Yaqub dan Abu Yusuf. Saat Abu Yaqub (al Mansur) menjadi gubernur Seville, Ibnu Rusyd diperintahkan untuk mengulas karya-karya Aristoteles. Hal ini karena Ibnu Tufail yang sudah tua terlalu sibuk dan sang walikota tak kunjung mengerti apa isi tulisan Aristoteles. Pekerjaan sebagai ”komentator” inilah yang kemudian membuat Ibnu Rusyd begitu dikenal sebagai ”the Great Commentator” oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Dante menyebutkan julukan Ibnu Rusyd ini dalam divine comedy bersama nama Euclid, Ptolemeus, Hippocrates dan Ibnu Sina serta Galen.

Tulisannya yang berbentuk komentar-komentar terhadap Aristoteles, dibagi ke dalam tiga
ulasan: besar, menengah dan kecil. Ulasan besar disebut tafsir. Tulisan ini mengikuti pola penafsiran al Quran. Mengutip satu dua paragraf lalu memberikan ulasan. Ulasan tentang Metafisika Aristoteles adalah yang termasuk dalam kelompok ini. Jenis ulasan menengah dapat dilihat dalam “categories”. Sementara bentuk ketiga ulasannya sering disebut sebagai talkis (rangkuman). Isinya tak melulu pikiran Aristoteles, tapi pikiran Ibnu Rusyd sendiri.

Fasl al Maqal
Pertentangan yang sudah lama terjadi antara para ahli fiqh status quo di Andalusia dengan Ibnu Rusyd sebagai Qadhi memungkinkan terjadinya persekongkolan antara penguasa dengan salah satu pihak ini. Ibnu Rusyd adalah pihak yang kalah. Ia sempat diasingkan di Lucena . Dibuangnya Ibnu Rusyd ke Lucena yang berada di kepulauan Atlantik pada 1195 bersamaan dengan dibakarnya buku-bukunya di depan umum, ajarannya tentang filsafat dan sains, kecuali kedokteran dan astronomi dilarang disebarkan. Kondisi kisruh dan peperangan menjadikan penguasa lebih memilih ahli fiqh karena membutuhkan dukungan untuk menopang kekuasaannya. Namun, Abu Yusuf kemudian memanggilnya kembali dan memperbaiki nama Ibnu Rusyd.

Seperti telah disebutkan di awal tulisan ini bahwa serangan al Ghazali terhadap para filsuf (Al Farabi dan Ibnu Sina) terutama berpengaruh pada hubungan agama dan filsafat. Dari ketiga karangan Ibnu Rusyd di bidang filsafat- tahafut-tahafut (kerancuan buku kerancuan filsafat), fasl al maqal (pernyataan yang jelas dan lugas) dan kasyf an Manahijul Adillah (uraian tentang metode pembuktian)- fasl al maqal, ditulis tahun 1180 M agaknya merupakan karya yang paling relevan untuk membahas lebih dalam letak di mana agama dan filsafat memiliki kesesuaian dan bagaimana Ibnu Rusyd mengemukakan perspektifnya.

Tuduhan al Ghazali bahwa bahwa para filsuf berbuat bidah, kufr dan tidak beragama bagi seorang ahli hukum seperti Ibnu Rusyd akan berakibat hukuman mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan filsafatnya dan dengan membuat penyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya pada ajaran filsafat mereka. Karena itu perlulah para filsuf perlu melakukan pembelaan diri. Ibnu Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan pertanyaan mengenai keabsahan filsafat dalam perspektif syariah (Islam). Filsafat menurutnya sesuai syariah dan sangat dianjurkan. Sebab fungsi filsafat hanya membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pengetahuan akan sang pencipta. Menurut Ibnu Rusyd, perintah berpikir (i’tibar) dalam al Quran merupakan suatu ungkapan qurani yang berarti lebih dari sekedar berspekulasi atau refleksi.

Mengartikan perintah berpikir dalam alQuran secara logika, tak lebih dari mengetahui yang ghaib dari yang diketahui lewat pengambilan kesimpulan. Cara ini disebut deduksi, di mana pemaparan (burhan) merupakan bentuk paling baik. Dan karena Tuhan memerintahkan manusia untuk mengenalnya lewat pemaparan tersebut, maka orang harus mulai belajar tentang bagaimana membedakan antara deduksi dialektis, retoris dan sofistikis. Pemaparan merupakan alat yang dapat digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan. Ini merupakan metode pemikiran yang logis yang membawa kepada kepastian. Jadi al Quran memerintahkan manusia untuk belajar filsafat karena manusia harus membuat spekulasi atas alam ini dan merenungkan bermacam-macam kemaujudan. Sasaran agama secara filsofos adalah bahwa agama adalah untuk mencapai teori yang benar dan praktek yang benar. Seperti Alkindi, Ibnu Rusyd menyepakati bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan tentang Tuhan, tentang kemaujudan lainnya, dan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat. Dua cara untuk mencapai pengetahuan adalah pencerapan dan persesuaian. Persesuaian bisa bersifat demonstratif, dialektis atau retoris.

Ibnu Rusyd meyakini adanya tiga kelompok manusia. Para filosof, para teolog, dan orang awam (jumhur). Filsuf adalah kelompok yang menggunakan dalil demonstratif, teolog adalah yang menggunakan nalar dialektis dan bukan dari kebenaran ilmiah. Sementara orang awam hanya bisa mencerap sesuatu dari contoh-contoh dan pemikiran puitis. Dalam hal ini ia meyakini konsep takwil (alegori) terhadap ayat al Quran yang bertingkat yang terdiri dari yang tersurat dan tersirat. Saat itu para ulama fuqaha mengelak karena takut mengacaukan pemikiran kaum awam.

Di bidang fiqh Ibnu Rusyd membandingkan metode logika dengan metode tardisional fiqh, atau ushul fiqh berpijak pada empat sumber : al Quran, hadis, ijma (konsensus), dan qiyas (silogisme). Bagi dia agama mempunyai tiga aspek : eksistensi, kenabian dan kebangkitan. Tiga ini adalah masalah pokok agama.

Bagi Ibnu Rusyd, semua kontroversi yang melibatkan para teolog dan para filsuf pada hakikatnya bermula dari penafsiran ayat-ayat mutasyabihat. Kaum awam berpegang pada arti literal surat tersebut. Kaum Asy'ariah mencoba menafsirkan ambiguitas ayat-ayat tersebut apa adanya, tidak beda jauh dari arti tersuratnya. Menurut Ibnu Rusyd, pertentangan ini adalah bersifat verbal dan semantik belaka. Misalnya soal ”keabadian alam” sebagai fokus. Dari ketiga masalah yang menjadi perdebatan, yakni Tuhan, objek-objek partikular dan alam semesta, hanya masalah yang ketiga-lah yang terjadi pertentangan. Ini tidaklah terlalu mendasar sehingga tidaklah layak untuk saling mengkafirkan. Jika menelaah lebih lebih lanjut pikiran Aristoteles dan pengikut muslimnya, akan ditemukan bahwa kekekalan alam semesta tidaklah sama dengan kekekalan Tuhan.

Epilog
Dalam komentarnya tentang Republik Plato, Ibnu Rusyd mengulas masalah ”kesempurnaan terbaik” bagi para filsuf adalah turut serta dalam masyarakat yang menghargai orang yang seperti itu. Para pemimpin tercerahkan seperti itu adalah tanda nabi. Dalam fasl al maqal Ibnu Rusyd mengungkap dengan gamblang bahwa hukum mewajibkan orang yang mampu mempelajari filsafat dan mengingat hukum untuk menjamin kesejahteraan anggota masyarakat, termasuk yang bukan filsuf memerlukan pengajaran, kewajiban mempelajari filsafat harus mendorong penerapan praktisnya.

Ibnu Rusyd begitu penting karena tak seperti Plato, ia begitu berhasrat untuk membumikan kajian filsafat dalam bidang hukum. Karena terikat hukum, sang filosof hidup seperti seorang nabi di tengah-tengah manusia, dan karena keunggulannya dalam kebijaksanaan falsafi ia wajib memegang kekuasaan. Plato melihat politik dan filsafat tidak serasi, sebaliknya dengan Ibnu Rusyd yang melihat keserasian.

Mungkin tak terlalu tepat bila disebut bahwa al Ghazali memiliki trilogi buku (maqasidul , tahafut dan misykat) yang membahas dan mengkritik kesalahan para filsuf dan Ibnu Rusyd juga mendedikasikan tiga bukunya (tahafut-tahafut, kasyf dan fasl al maqal). Namun kita bisa melihat spirit yang terlihat dalam ketiga buku itu sebagai pembelaan yang gigih oleh Ibnu Rusyd terhadap pemikiran filsafat dan menjelaskan kesesuaiannya dengan kitab suci. ( MH)

Ditulis untuk mata kuliah Falsafah Alquran di Universitas Paramadina yang diampu oleh Dr. Abdul Moqsith Ghazali

Referensi
- Nasr, S.H dan Leaman, O, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam (buku pertama), diterjemahkan oleh tim penerjemah Mizan, Bandung, Mizan, 2003.
- Nasr, S.H dan Leaman, O, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam (buku kedua), diterjemahkan oleh tim penerjemah tim penerj Mizan, Bandung, Mizan, 2003.
- Fakhry, M. Sejarah Filsafat Islam : Sebuah Peta Kronologis, diterjemahkan oleh Zaimul Am, Bandung, Mizan, 2002.
- _________. Sejarah Filsafat Islam, diterjemahkan oleh Mulyadhi Kertanegara, Jakarta, Pustaka Jaya, 1987
- Leaman, O. Pengantar Filsafat Islam : Sebuah Pendekatan Tematis, diterjemahkan oleh Musa Kazim dan Arif Mulyadi, Bandung, Mizan, 2002.
- Solomon F.C dan Higgins K.M. Sejarah Filsafat. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta, Bentang Budaya, 2002.
- Syarif, M.M. (Ed) Para Filosof Muslim.diterjemahkan Oleh Rahmani Astuti, Bandung, Mizan, 1992.

1 comment:

Averose said...

bisa minta tlong info link download faslu maqolnya Ibnu Rusyd n maqosidul falasifahnya Al-Ghazali.
info kirim ke cholil_suyuthi@yahoo.com
makasih sebelumnya