Thursday, March 25, 2010

Pluralisme dalam Pandangan Tafsir al-Tabari

Dalam agama, kitab suci (wahyu) adalah elemen terpenting kedua untuk dipahami setelah kepercayaan kepada dzat Tuhan. Sang manusia suci pembawa wahyu ini dalam peradaban manusia kemudian dikenal sebagai rasul atau nabi.

Dalam pemahaman yang mengandaikan pentingnya telaah kritis terhadap misi ataupun ajaran yang dibawa suatu kitab suci, maka perlu diperdalam apa saja klasifikasi yang dapat dihadapkan pada kategori ayat-ayat dari kitab suci tersebut. Berdasarkan pembagian berdasarkan sifatnya, maka ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci terbagi menjadi dua golongan saja: Ayat muhkamat (doktrin) dan Ayat Mutasyabihat (peradaban).

Alquran, teks kitab suci dengan klaim universalnya jika ditelaah lebih banyak mengandung ayat-ayat yang bersifat peradaban dibanding doktriner. Faktor ini membuat Alquran terlihat memiliki banyak metafor dan bergaya sastrawi. Kemungkinan inilah yang menyebabkan Alquran sangat membutuhkan pencarian makna (penafsiran).


Dalam perjalanan sejarahnya kemudian, penafsiran kadang menjadi semacam ilmu apologia yang melindungi Alquran dari berbagai kritik dan kecaman. Pada tahap lainnya tafsir menjadi bagian ilmu teologia yang merumuskan kesucian, kesempurnaan dan keilahian dari kitab suci.

Memperhatikan penulisan Alquran yang sudah berlangsung ribuan tahun lalu dan penafsiran sudah berlangsung sejak masa nabi (secara verbal) oleh para sahabat semisal Ibnu Masud dan Abdullah bin Abbas, maka penafsiran boleh dikatakan sangat berperan dalam menjadikan Alquran sebagai kitab suci yang kontekstual dan dibutuhkan.

Tulisan ini ingin melacak intepretasi yang dilakukan oleh para penafsir terdahulu terhadap ayat-ayat berkategori peradaban yang banyak menjadi bahan diskursus publik kini. Misalnya diskursus tentang pluralisme agama. Menurut Abdul Moqsith Ghazali dalam Metodologi Studi Alquran, semaraknya penulisan tafsir Alquran di mulai sejak abad ketiga Masehi dan dirintis oleh sosok Ibnu Jarir al-Tabari (838-923 M).


Kehidupan Sosial-Intelektual al-Tabari
Nama lengkapnya Abu Jafar Muhamad ibn Jarir ibn Yazid ibnu Khalid al-Tabari. Lahir di Amol, Sasanian, Tabaristan, Iran Selatan, di sebuah daerah pegunungan di pesisir laut Kaspia. Al-Tabari lahir pada 838 Masehi (224 Hijrah) dan wafat Tahun 923 Masehi (310 Hijrah). Ia merupakan ulama yang menulis banyak karya dari berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, al Quran, hadits, kalam, dan etika. Tapi perjalanan sejarah muslim membuatnya lebih terkenal sebagai ahli tafsir.

Al-Tabari seorang yang cerdas. Ia mulai bisa membaca dan hafal Alquran pada usia 7 tahun. Setelah menerima pendidikan awal dalam ilmu-ilmu agama di Amol, dia melanjutkan studinya di Rayy dan Baghdad, yang dicapainya sekitar tahun 855. Tahun 857 ia mengunjungi Basra, Wasit, dan Kufah untuk belajar pada ulama terkenal di sana. Setelah itu ia kembali ke Baghdad dan mempelajari ilmu fiqih sesuai dengan ajaran al-Syafi'i yang diikuti selama beberapa waktu sebelum membuat doktrin sendiri.

Setelah mengunjungi beberapa kota di Suriah al-Tabari pergi ke Mesir pada 867 M, di mana dia sudah menjadi ulama terkenal dan dihormati. Setelah meninjau kembali Suriah ia kembali lagi ke Mesir untuk tinggal lagi pada 870 M. Di Mesir ia membela doktrin ijtihad dalam perdebatan dengan ulama terkemuka dari mazhab Syafii, al-Muzani. Ia kembali ke Baghdad untuk tinggal di sana selama sisa hidupnya, meskipun ia kemudian melakukan minimal dua kali perjalanan ke Tabaristan, yang kedua pada 903.

Dia mendedikasikan waktunya untuk mengajar dan menolak tawaran untuk menjadi hakim. Kuliahnya diminati. Tapi Penolakannya terhadap fiqh Hambali membuatnya mempunyai musuh. Al-Tabari dituduh melakukan bidah. Rumahnya diserang, siswanya dilarang mengikuti kuliahnya.

Tarikh al-Tabari, karya terbesarnya selesai tahun 915, dimulai dengan usia para nabi, bapa bangsa, dan raja-raja awal, diikuti oleh sejarah Sassania, usia Muhammad, dan era Islam pada tahun 915. Setelah Hijrah (622) periodesasi diatur secara analitis. Al-Tabari secara teliti menyebutkan sumber-sumbernya, yang sebagian besar hilang, dan mereproduksi mereka tanpa perubahan. Sering ia mengutip dua atau lebih laporan yang saling bertentangan pada peristiwa yang sama. Dengan sedikit pengecualian ia menunjukkan diskriminasi yang luar biasa dalam pemilihan sumber-sumbernya. Terutama bagian sejarah Umayyah Sassania. karya al-Tabari lain yang hilang kecuali beberapa fragmen dan risalah kecil.

Corak dan Metode Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Ayi al-Quran karya al-Tabari
Para akademisi membagi corak dan metode penafsiran menjadi beberapa jenis. Seperti maudhui, tahlili, bilmatsur, bi ra’yi, bil harfi, bi siyaqi, dan bi librali

Tafsir al-Tabari, merujuk apa yang dilakukan oleh al-Tabari dalam proses penafsiran al-Quran dengan memasukkan banyak kisah Israiliyat yang diceritakan dalam tafsir al-Tabari termasuk jenis tafsir tahlili dan bi ra’yi. Misalnya tafsiran yang dilakukan tabari terhadap kisah Uzair anak Allah yang merupakan tokoh yang digelari putra Allah karena jasanya membawa kembali Taurat yang sempat hilang setelah ulama-ulama yahudi dibunuhi oleh raja Nebukadnezar dari Babilonia.

Banyaknya penguasaan al-Tabari terhadap sejarah kisah Israiliyat ini membawa pandangan Perenialisme dalam corak tafsirnya. al-Tabari terlihat apresiatif terhadap apa yang oleh sebagian kalangan disebut ahli kitab. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa al-Tabari meyakini bahwa terdapat kesatuan atau keberlanjutan antara agama-agama.

al-Tabari, misalnya menafsirkan bahwa umat Nasrani juga melakukan puasa dengan tatacara yang berbeda. Misalnya 3 hari dalam sebulan. Tabari menjelaskan ini dalam jilid 2 hal 135-136.

Dalam soal hukum Qisas, Tabari menjelaskan bahwa dalam surat al-Maidah (5) ayat 45 ”.....kami tetapkan di dalamnya (Taurat) bahwasanya nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun ada qisas-nya.......” Ayat ini menurut penafsirannya untuk mengingatkan kembali orang Yahudi Madinah yang sudah mulai melupakan doktrin kitab sucinya.

Dalam soal orang yang keluar dari Islam (murtad) al-Tabari juga menggambarkan bahwa orang tersebut hanya akan merugi di akhirat. Misalnya dalam kasus keluarnya Harits bin Suwaid, seorang Ansor yang kembali menjadi musyrik.


Ayat Pluralis dan Penafsiran al-Tabari
Terdapat banyak ayat yang bisa dijadikan contoh sebagai ayat peradaban yang sedang membicarakan hubungan atau interaksi sosial antara pemeluk ajaran Islam dan berpegang teguh pada ajaran Alquran. Berikut ini :

1. Qs Hud (11) ayat 117 “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan satu bangsa secara zalim manakala penduduknya berbuat kebaikan”

2. Qs Hud (11) ayat 118 “Andaikata Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. Dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda”

3. Qs al-Maidah (5) ayat 48 “...bagi masing-masing kalian telah kami buatkan jalan menuju kebenaran (syir’ah) dan metodologinya (minhaj). Andaikata Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja. Tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberianNya kepada kalian. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kalian kembali semuanya, lalu diberitahukanNya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.”

4. Qs al-Baqarah (2) ayat 256 “Tidak ada paksaan dalam beragama”

5. Qs al-Hajj (22) ayat 17 “Sesungguhnya orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’ah, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang orang Musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”

Terhadap kelompok ayat-ayat ini, dalam penafsirannya terlihat pandangan al-Tabari yang untuk konteks sekarang bisa digolongkan sebagai pandangan liberal. Patut dicatat bahwa al-Tabari juga memperluas makna Ahlul Kitab menjadi Shabiun. Pengakuan terhadap ahlul kitab juga tidak berhenti pada penganut agama pada masa sebelum dan saat kerasulan Nabi Muhamad, tapi juga diperluas hingga anak keturunan orang Yahudi dan Nasrani masa selanjutnya.

Penutup
Qs Ali Imran (3) ayat 64 “Katakanlah: Hai ahli kitab marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”

Ibnu al-Tabari menafsirkan ayat Kalimatun Sawa tadi dengan prinsip keadilan, yaitu kalimat Tauhid dan menghindar dari upaya untuk mensekutukanNya.

Dari pembacaan seksama terhadap corak penafsiran dan pandangannya sangat apresiatif (soft) terhadap pluralisme, pandangan al-Tabari juga tidak kehilangan ketegasan dalam penyikapannya terhadap tekanan (kedzaliman dan ketidakadilan). Misalnya tentang wajibnya kaum muslim berpartisipasi dalam perang (jihad qital) saat kaum musyrik Makkah melakukan gangguan keamanan terhadap muslim Madinah.[ ]

Daftar Pustaka
Thabari, Jami al Bayan fi Ta’wil al-Quran, Beirut, Darul Fikr
Ghazali, Abd.Moqsith, 2009. Argumen Pluralisme Agama, Jakarta. Katakita
Ghazali, Abd.Moqsith, dkk, 2009. Metodologi Studi al-Quran, Jakarta. Gramedia.
http://www.answers.com/topic/muhammad-ibn-jarir-al-tabari 


*Ditulis sebagai paper untuk mata kuliah Tafsir alQuran yang diampu oleh  Dr. A Moqsith Ghazali

No comments: