Wednesday, April 07, 2010

Filsafat Islam Aliran Peripatetik : Sebuah Pengantar

Jika merujuk kondisi mutakhir pembelajaran filsafat di dunia muslim, khususnya muslim Indonesia, terdapat kemajuan yang sangat berarti. Akses terhadap karya-karya filsafat dengan maraknya penerjemahan karya filsafat dari tradisi intelektual Islam (klasik maupun kontemporer) semakin mudah dan mapan. Pembaca awam, peminat kajian filsafat hingga mahasiswa filsafat bahkan sudah bisa mendapatkan bacaan pengantar yang ditulis secara populer.

Pasca revolusi Islam Iran pada 1979 yang dipimpin imam Khomeini, lahir gelombang peminatan dan pengkajian tradisi intelektual Islam (khususnya filsafat) secara lebih terbuka. Harus kita akui bahwa secara umum di dunia muslim tradisi pengkajian filsafat pasca Ibnu Rusyd (wafat 1196 M) bisa dikatakan hampir tidak ada kecuali di dunia muslim Syiah .(Labib, 2005)

Sebagaimana sudah kita ketahui, istilah filsafat Islam masih dianggap bukanlah istilah yang tepat atau pantas. Filsafat Islam bagi sebagian besar pemikir Barat hanyalah sekedar filsafat Muslim atau filsafat Arab. Istilah filsafat Islam hingga era 1970-an seperti diungkap oleh Madjid Fakhri, hanya dilihat sebagai mata rantai yang menghubungkan tradisi filsafat Eropa kuno (Yunani) dan Eropa modern. Islam dianggap tidak memiliki filsafat sendiri. Kelahiran filsafat non-peripatetik (aliran Iluminasi dan Irfani) di dunia muslim, dianggap tidak relevan. Barulah setelah tokoh seperti Henry Corbin dan Louis Masignon melakukan kajian terhadap filsafat Ilmuninasi dan tasawuf al Hallaj, dunia Barat sedikit kehilangan bias europosentrisme.(Kartanegara, 2006)


Menurut Mulyadhi Kartanegara, istilah filsafat Islam meski tidak disepakati semua kalangan, layak disematkan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, sebelum filsafat Yunani marak dipelajari di dunia Islam, Islam sudah memiliki teologi sendiri tentang keesaan Tuhan (Tauhid) dan hukum Syariah. Filsafat Yunani saat memasuki pandangan dunia Muslim tidak pernah benar-benar menjadi independen karena harus tunduk dengan syariah yang memiliki pandangan tauhid. Kedua, sebagai pemerhati filsafat Yunani, para filosof muslim bersikap kritis dan melakukan revisi terhadap pandangan-pandangan filsuf Yunani dengan teori baru. Tokoh seperti Ibnu Sina, al Ghazali, Suhrawardi dan Ibnu Taymiyah melakukan kritik dengan argumen-argumen baru. Filsafat Yunani di tangan filsuf muslim telah mengalami transformasi radikal. Ketiga, interaksi filsafat dengan agama, telah melahirkan rumusan-rumusan baru dalam teori filsafat yang sebelumnya belum dielaborasi, semisal filsafat kenabian dsb. Ketiga alasan ini memberikan gambaran dinamika yang khas dalam tradisi pengkajian filsafat di di dunia Islam sehingga layak disebut filsafat Islam.

Makalah ini mencoba membahas filsafat Islam dari aliran Peripatetik (Masyaiyah). Aliran ini merujuk pada pengajaran filsafat oleh Aristoteles. Aliran ini merupakan kategori pertama dari pemerolehan tradisi pengkajian filsafat dalam dunia Islam yang masih mengandaikan logika formal dan penalaran akal. Beberapa filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini adalah al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.

Pengertian Aliran Peripatetik
Peripatetik merupakan derivasi kata Yunani peripatein (berkeliling) dan peripatos (beranda). Dalam tradisi Yunani kata ini mengacu pada suatu serambi gedung olahraga di Athena. Istilah Peripatetik mengacu pada cara mengajar Aristoteles yang dilakukan seperti gurunya (Plato) yang dilakukan dengan berjalan-jalan di beranda gedung. Dalam kosakata Arab Islam, Peripatetik dikenal dengan istilah Masya’iyah (berjalan berputar). Kemudian bisa didapatkan kata al-Masyaun (pengikut). Istilah ini tidak mengacu pada Platonisme dan Aritotelianisme saja, tapi menurut Sami an Nasyasyar dan syed Hossein Nasr juga mengacu pada Neo Platonisme . (Drajat, 2005)

Di tangan para filsuf muslim, peripatetisme mengalami perluasan objek pembahasan. Terdapat sintesa antara ajaran Plato, Aristoteles, Plotinus serta wahyu. Hal ini menunjukkan keterbukaan dan penerimaan yang baik dari para filsuf muslim. Tradisi filsafat ini dianggap sebagai identik dengan istilah Hikmah dalam ajaran Islam yang terdapat dalam kitab suci.(Drajat, 2005, 76-78)

Metodologi dan Epistemologi Aliran Peripatetik
Terdapat beberapa hal untuk mengenali kekhasan dari aliran ini berdasarkan metodologi dan epistemologinya. Pertama, modus ekspresi dan dan penjelasannya bersifat diskursif (bahtsi). Yaitu menggunakan silogisme (logika formal dan penalaran akal). Berupa penarikan kesimpulan dari pengetahuan yang sudah diketahui dengan baik. Kedua, karena membutuhkan silogisme, maka penalaran dilakukan melalui proses representasi (tak langsung/hushuli/perolehan). Ketiga, penekanan yang kuat pada daya rasio sehingga tidak memprioritaskan pengetahuan melalui pengenalan intuitif (kehadiran/knowledge by presence/hudhuri). (Kartanegara, 2006, 26-29)

Ciri khas lain dari aliran ini adalah dalam persoalan ontologis. Ajaran Hylomorfisme adalah sebutan untuk pemahaman ontologinya. Hylo (hyle/materi) dan morphis (bentuk) adalah unsur utama dari apapun yang ada di dunia. Pandangan ini adalah reformasi dari dari ide Plato tentang dunia ini yang terdiri dari ide dan bayang-bayangnya. Aristoteles merumuskan bahwa materi tidak lain dari bayang-bayang dan bentuk merupakan ide. Materi (bahan) tidak akan mewujud atau mengaktual jika tidak bergabung dengan bentuk (hakikat). Baik al-Farabi maupun Ibnu Sina menyebut akal aktif (al-’aql al-fa’al) sebagai pemberi bentuk. Alam fisik ini menurut mereka adalah bahan yang siap (potensial) menerima bentuk. Ibnu Sina menyebutnya sebagai Mumkinul Wujud (wujud mungkin). Mumkinul wujud ini baru akan memiliki bentuk jika akal atif-sering disebut sebagai malaikat Jibril- bekerja memberikan bentuk.

Perbedaan lain yang merupakan pandangan khas yang muncul dari para filsuf peripatetik muslim adalah teori emanasi. (Kartanegara, 2006, 2-9-31) Teori emanasi dari para peripatetik muslim muncul dari ketidakpuasan dan sedikitnya penjelasan soal wujud Tuhan dalam ajaran metafisika Aristo. Teori Emanasi mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana dari wujud yang Esa bisa muncul alam semesta yang beraneka. Saat diktum filosofis dari logika hanya meniscayakan dari yang esa hanya muncul yang esa juga, maka lahirlah apa yang disebut sebagai Murajjih (alasan cukup/the sufficient reason).

Berdasar teori Emanasi al-Farabi, Tuhan yang maha Esa adalah akal yang kerjanya adalah berpikir. Sebagai konsekuensi pikiran, muncullah Akal Pertama (al-Aql al-Awwal) yang wujud dan sifatnya sangat identik dengan Tuhan. Karena Tuhan itu maha Esa, maka hanya muncul satu akal saja sebagai akibat. Dari Akal Pertama muncul keanekaragaman karena dia tidak hanya berpikir Tuhan tapi juga tentang dirinya. Akal pertama sudah memiliki dua prinsip, prinsip keanekaan dan prinsip keesaan. Selanjutnya muncul akal-akal berikutnya dari akal dua hingga akal ke-10. Bagi para filsuf seperti al-Farabi, alam semesta tercipta berdasarkan atas prinsip keniscayaan. (Kartanegara, 2006, 33-38)

Ibnu Sina melengkapi teori al-Farabi. Teori emanasinya hampir sama dengan teori al-Farabi. Beberapa hal yang perlu dicatat adalah; pertama, Dia menjelaskan wujud berdasarkan tiga kelompok, wajibul wujud, Mumtani al-Wujud, dan Mumkinul Wujud. Tuhan tentu saja adalah wajibul wujud yang senantiasa aktual. Mumtani al-Wujud tidak merujuk apapun karena kemustahilannya. Sementara Mumkinul wujud adalah wujud potensial. Mumkinul wujud merujuk pada alam semesta ketika masih berpotensi. Ketika sudah pada tahap maujud, maka dia disebut sebagai wajibul wujud lighairihi (wujud wajib yang bergantung). Kedua, karena akal pertama dan akal selanjutnya dapat berpikir tentang tiga macam, maka akibatnya juga tiga macam. Pengecualian terdapat pada akal kesepuluh karena tidak dapat lagi melahirkan akal ke sebelas karena memberikan bentuk pada materi, menimbulkan alam fisik yang fana berupa dunia kejadian (generasi) dan kehancuran (korupsi) berupa dunia bawah bulan (sub lunar world) yang kita tempati saat ini tempat munculnya hewan, tumbuhan, batuan dan manusia. (Kartanegara, 2006, 38-42)

Penutup
Dari uraian singkat ini bisa ditarik kesimpulan bahwa peran para Filsuf Peripatetik Muslim dalam pemikiran filsafat, telah melanjutkan dengan baik tradisi filsafat Yunani melalui pemikiran baru yang merupakan kritik mendalam dan juga apresiasi terhadap jejak pemikiran filsafat para filsuf sebelumnya.

Produk pemikirannya baik berupa logika, metafisika, kosmologi dan psikologi tidak sekedar jembatan emas seperti yang diasumsikan banyak pemikir yang terkena bias eurosentrisme, tapi merupakan warisan intelektual sangat berharga yang lahir dari komitmen mendalam dan kecintaan terhadap apa yang diwahyukan dalam kitab suci sebagai hikmah.[ ]

Catatan kaki 


1 Kalau dipahami dinamika tradisi pewarisan ilmu-ilmu tradisional Islam (khususnya tradisi pengkajian filsafat) sebagai sesuatu yang berkelanjutan sejak filsuf muslim pertama (al Kindi) hingga hari ini, maka tidak lahir seorang pun filsuf dari dunia muslim sunni sejak al Ghazali melancarkan kritik keras terhadap filsafat. Sementara tradisi pengkajian filsafat di dunia Syii terus berlanjut. Dengan merujuk hasil karya Mulla Shadra hingga Thabathabai misalnya, warisan pemikiran filsafat itu bisa kita dapatkan. Karena itu jika merujuk hasil karya dan pemikiran cendekiawan muslim pembaharu seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid (muslim sunni), keduanya tidaklah bisa dikategorikan atau disebut sebagai filsuf muslim, tapi hanya sebatas teolog muslim.
 

2 Amroeni Drajat mengutip pendapat dari Sami an-Nasysyar dan Seyyed Hossein Nasr perihal asal usul istilah ini. Kajian Peripatetik menurut kedua tokoh ini juga mencakup Neo- Platonisme yang dibungkus dengan baju Islam. Neo Platonisme merujuk pada Plotinus (lahir 205 M di Mesir). Ia guru filsafat yang mencoba memadukan ajaran Plato dan Aristo meskipun pada prakteknya lebih cenderung pada ajaran Plato. Sementara menurut Mulyadhi Kartanegara istilah peripatetik ini merujuk kepada pengikut setia Aristoteles.

3 Teori tentang cahaya (pancaran)

 

Daftar Pustaka
Labib, Muhsin, 2005, Para Filosof: Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Al Huda : Jakarta
Kartanegara, Mulyadhi, 2006, Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Lentera Hati: Jakarta
Drajat, Amroeni, 2007.Suhrawardi: kritik filsafat peripatetik, Lkis, Yogyakarta


* Ditulis untuk mata kuliah Asas-Asas Filsafat Islam yang diampu oleh Aan Rukmana,MA.

2 comments:

Anonymous said...

Just want to say what a great blog you got here!
I've been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

Thumbs up, and keep it going!

Cheers
Christian, iwspo.net

asep said...

si bapak masih senang filsafat yahh gondrongnya tetep siap ahhhh jelang jadi genrasi pemikir indonesia